Tulisan ini saya tulis untuk menjawab pertanyaan dari bu dosen seorang ahli herbal, beliau menanyakan: ada tidak tanda-tanda awal dari kolitis? simptomnya apa? data pendukung lab seperti apa yang perlu dilakukan?

Apakah kolitis itu?
Kolitis berasal dari kata kolon (usus besar) dan itis (peradangan). Kolitis adalah penyakit berupa peradangan usus besar yang menyebabkan gejala nyeri, meradang, diare dan perdarahan anus. Usus besar meliputi area dari caecum (tempat menempel usus buntu/appendiks), kolon ascendant, kolon transversum, kolon descendent, sigmoid, rektum, dan anus.

Apa penyebab peradangan usus besar?
Penyebab peradangan tersebut diantaranya:

  1. Infeksi virus, bakteri atau parasit. Infeksi ini disebabkan makanan, minuman atau tangan yang kotor. Bakteri penyebab yang umum adalah Shigella, E. Coli, Salmonella dan Campylobacter. Selain itu Amuba juga dapat menyebabkan kolitis. Bakteri tersebut dapat menyebabkan diare darah, demam dan dehidrasi. Parasit misal Giardia bisa masuk ke tubuh dari air mentah seperti saat berenang di sungai, danau atau kolam renang. Bakteri C. defficile bisa tumbuh di usus besar pada pemakaian antibiotik. Kolitis ini disebut kolitis pseudomembranosa, terutama pada anak-anak. Antibiotik yang sering menimbulkan adalah amoksisilin dan klindamisin. Virus yang dapat menyebabkan colitis adalah Cytomegalovirus (CMV).
  2. Iskemik kolitis (aliran darah yang tidak adekuat), yaitu pada kasus atherosklerosis, volvulus, hernia inkarserata dan Henoch-Schönlein purpura (HSP). Biasanya kasus ini disertai demam, diare darah, anemia, dehidrasi dan syok.
  3. Reaksi autoimun. Reaksi ini biasa disebut dengan inflammatory bowel disease (penyakit peradangan usus) meliputi kolitis ulseratif dan penyakit Crohn’s. Kolitis ulseratif gejala nyeri perut lebih dominan, sedangkan penyakit Crohn’s melibatkan saluran pencernaan yang lain, tidak hanya usus besar dan disertai skip lession.
  4. Kolitis mikroskopik. Penyakit yang tergolong disini adalah kolitis kolagenosa dan kolitis limfositik. Dinding usus besar terisi oleh kolagen atau limfosit. Diare sebagian besar seperti air dan tanpa darah. Penyakit ini banyak terjadi pada wanita lansia. Penyebab belum diketahui, kemungkinan autoimun.
  5. Bahan-bahan kimia. Bahan kimia keras yang merangsang usus besar, misal enema, dapat menyebabkan kolitis.
  6. Kolitis yang sering terjadi pada anak-anak: necrotizing enterocolitis (NEC), kolitis alergi
  7. Kolitis akibat radiasi pada usus besar.

Gejala apa saja yang muncul pada kolitis?
Untuk memahami gejala kolitis kita harus memahami dahulu fungsi dari usus besar. Usus besar merupakan bagian dari organ pencernaan yang bertugas mengumpulkan dan menyimpan sementara sisa pencernaan makanan. Setelah nutrisi pencernaan diserap di usus halus,maka sisa pencernaan akan memasuki usus besar. Sisa makanan akan dicampur dengan lendir dan bakteri pencernaan, kemudian mukosa usus besar akan menyerap air dan elektrolit sehingga terbentuk feses.

Lapisan mukosa yang meradang akan menimbulkan gejala kolitis. Suplai oksigen dan nutrisi ke usus besar dilakukan oleh arteri tertentu. Penyakit yang mengganggu suplai arteri tersebut juga dapat menyebabkan peradangan usus besar.
Gejala kolitis tergantung penyebabnya. Secara umum disertai nyeri perut dan diare. Beberapa gejala lain yang mungkin menyertai adalah

  • Kembung dan peningkatan udara usus.
  • Perdarahan saat gerakan usus. Harus dibedakan dengan ambeien yang mengalami perdarahan.
  • Tenesmus atau nyeri akibat peregangan pada pergerakan usus.
  • Nyeri perut bisa memberat dan berkurang. Nyeri bertambah saat diare dan kemudian berkurang.
  • Nyeri bisa berlangsung terus menerus
  • Demam, menggigil dan tanda-tanda infeksi lain sesuai dengan penyebab kolitisnya.

Kapan saya harus periksa ke dokter?
Diare merupakan gejala umum kolitis,dan sebagian besar akan berhenti dalam hitungan jam. Pertolongan dokter harus segera dilakukan pada kondisi:

  1. Diare terus menerus
  2. Dehidrasi (gejala dehidrasi diantaranya kepala terasa ringan, kelemahan, penurunan jumlah buang air kecil, mulut, mata, dan kulit kering).
  3. Demam
  4. Nyeri perut yang memberat
  5. Perdarahan pada pergerakan usus.

Apa yang akan dokter lakukan untuk menegakkan diagnosis kolitis?
Dokter akan mengambil data, mulai dari riwayat penyakit, riwayat keluarga, pemeriksaan fisik (perut dan colok dubur), laboratorium, pemeriksaan pencitraan. Dokter akan melakukan pemeriksaan dengan cermat karena adanya darah dalam feses selain terjadi pada kolitis juga dapat terjadi pada kanker kolon.
Pemeriksaan laboratorium meliputi tes darah lengkap, elektrolit, ginjal, sampel feses (feses lengkap, kultur feses). Pemeriksaan pencitraan berupa kolonoskopi biopsy, barium enema, juga CT scan.

Terapi apa yang akan dilakukan jika saya menderita kolitis?
Dokter akan memutuskan terapi berdasarkan kondisi klinis pasien dan penyebab yang mendasari terjadinya kolitis. Diantaranya:

  • Pemberian cairan adekuat secara intravena.
  • Tranfusi darah jika diperlukan
  • Diet cair tanpa serat, dimana dapat mengistirahatkan usus besar karena tidak menghasilkan ampas/sisa.
  • Obat-obatan: antibiotik, antinyeri, antiradang, imunosupresan, penghenti diare
  • Terapi bedah

Kapan penderita kolitis harus menjalani operasi?
Keputusan operasi tergantung dari keparahan penyakit, respon terhadap terapi konservatif dan penyebab. Operasi dapat dilakukan pada iskemik kolitis, penyakit Crohn’s atau kolitis ulseratif.

Pencegahan apa yang harus dilakukan supaya tidak menderita kolitis?
Kolitis yang disebabkan infeksi dapat dilakukan pencegahan seperti:
1. menjaga kebersihan makanan dan minuman
2. mencuci tangan sebelum makan
Penyebab genetik dan autoimun sulit dicegah, seperti pada kolitis ulseratif dan penyakit Crohn’s. Pada kolitis iskemik yang disebabkan oleh penyempitan pembuluh darah harus dilakukan pencegahan risiko terjadinya penyempitan di organ lain seperi stroke, serangan jantung, penyakit vaskular perifer dengan mengatasi faktor risikonya (stop merokok, kontrol tekanan darah, kolesterol dan diabetes).

Komplikasi apa yang dapat timbul pada kolitis?
Jika kondisinya parah kolitis dapat menyebabkan:

  • anemia
  • abses hati pada kolitis amuba
  • dehidrasi
  • hipoksia
  • syok
  • disseminated intravascular coagulation (DIC)
  • toksik megakolon
  • peritonitis
  • perforasi usus
  • obstruksi
  • hemolytic uremic syndrome (HUS) merupakan komplikasi penting pada kolitis karena enterohemorrhagic E coli (EHEC).

Perlu pertolongan medis yang adekuat untuk menghindarkan terjadinya kematian.

Bagaimana risiko kanker pada pasien kolitis?
Risiko terjadi kanker usus besar akan meningkat pada pasien kolitis ulseratif setelah 8-10 tahun, sumber pustaka lain menyebutkan 7-8 tahun dari awal diagnosis. Risiko berhubungan dengan durasi dan lama penyakit. Risiko kolitis ulseratif menjadi kanker bertambah kuat apabila ada riwayat keluarga kanker kolon.