Kolitis? Sakit apakah itu?

Tulisan ini saya tulis untuk menjawab pertanyaan dari bu dosen Dr. Susiani seorang ahli herbal, beliau menanyakan: ada tidak tanda-tanda awal dari kolitis? simptomnya apa? data pendukung lab seperti apa yang perlu dilakukan?

Apakah kolitis itu?
Kolitis berasal dari kata kolon (usus besar) dan itis (peradangan). Kolitis adalah penyakit berupa peradangan usus besar yang menyebabkan gejala nyeri, meradang, diare dan perdarahan anus. Usus besar meliputi area dari caecum (tempat menempel usus buntu/appendiks), kolon ascendant, kolon transversum, kolon descendent, sigmoid, rektum, dan anus.

Apa penyebab peradangan usus besar?
Penyebab peradangan tersebut diantaranya:

  1. Infeksi virus, bakteri atau parasit. Infeksi ini disebabkan makanan, minuman atau tangan yang kotor. Bakteri penyebab yang umum adalah Shigella, E. Coli, Salmonella dan Campylobacter. Selain itu Amuba juga dapat menyebabkan kolitis. Bakteri tersebut dapat menyebabkan diare darah, demam dan dehidrasi. Parasit misal Giardia bisa masuk ke tubuh dari air mentah seperti saat berenang di sungai, danau atau kolam renang. Bakteri C. defficile bisa tumbuh di usus besar pada pemakaian antibiotik. Kolitis ini disebut kolitis pseudomembranosa, terutama pada anak-anak. Antibiotik yang sering menimbulkan adalah amoksisilin dan klindamisin. Virus yang dapat menyebabkan colitis adalah Cytomegalovirus (CMV).
  2. Iskemik kolitis (aliran darah yang tidak adekuat), yaitu pada kasus atherosklerosis, volvulus, hernia inkarserata dan Henoch-Schönlein purpura (HSP). Biasanya kasus ini disertai demam, diare darah, anemia, dehidrasi dan syok.
  3. Reaksi autoimun. Reaksi ini biasa disebut dengan inflammatory bowel disease (penyakit peradangan usus) meliputi kolitis ulseratif dan penyakit Crohn’s. Kolitis ulseratif gejala nyeri perut lebih dominan, sedangkan penyakit Crohn’s melibatkan saluran pencernaan yang lain, tidak hanya usus besar dan disertai skip lession.
  4. Kolitis mikroskopik. Penyakit yang tergolong disini adalah kolitis kolagenosa dan kolitis limfositik. Dinding usus besar terisi oleh kolagen atau limfosit. Diare sebagian besar seperti air dan tanpa darah. Penyakit ini banyak terjadi pada wanita lansia. Penyebab belum diketahui, kemungkinan autoimun.
  5. Bahan-bahan kimia. Bahan kimia keras yang merangsang usus besar, misal enema, dapat menyebabkan kolitis.
  6. Kolitis yang sering terjadi pada anak-anak: necrotizing enterocolitis (NEC), kolitis alergi
  7. Kolitis akibat radiasi pada usus besar.

Gejala apa saja yang muncul pada kolitis?
Untuk memahami gejala kolitis kita harus memahami dahulu fungsi dari usus besar. Usus besar merupakan bagian dari organ pencernaan yang bertugas mengumpulkan dan menyimpan sementara sisa pencernaan makanan. Setelah nutrisi pencernaan diserap di usus halus,maka sisa pencernaan akan memasuki usus besar. Sisa makanan akan dicampur dengan lendir dan bakteri pencernaan, kemudian mukosa usus besar akan menyerap air dan elektrolit sehingga terbentuk feses.

Lapisan mukosa yang meradang akan menimbulkan gejala kolitis. Suplai oksigen dan nutrisi ke usus besar dilakukan oleh arteri tertentu. Penyakit yang mengganggu suplai arteri tersebut juga dapat menyebabkan peradangan usus besar.
Gejala kolitis tergantung penyebabnya. Secara umum disertai nyeri perut dan diare. Beberapa gejala lain yang mungkin menyertai adalah

  • Kembung dan peningkatan udara usus.
  • Perdarahan saat gerakan usus. Harus dibedakan dengan ambeien yang mengalami perdarahan.
  • Tenesmus atau nyeri akibat peregangan pada pergerakan usus.
  • Nyeri perut bisa memberat dan berkurang. Nyeri bertambah saat diare dan kemudian berkurang.
  • Nyeri bisa berlangsung terus menerus
  • Demam, menggigil dan tanda-tanda infeksi lain sesuai dengan penyebab kolitisnya.

Kapan saya harus periksa ke dokter?
Diare merupakan gejala umum kolitis,dan sebagian besar akan berhenti dalam hitungan jam. Pertolongan dokter harus segera dilakukan pada kondisi:

  1. Diare terus menerus
  2. Dehidrasi (gejala dehidrasi diantaranya kepala terasa ringan, kelemahan, penurunan jumlah buang air kecil, mulut, mata, dan kulit kering).
  3. Demam
  4. Nyeri perut yang memberat
  5. Perdarahan pada pergerakan usus.

Apa yang akan dokter lakukan untuk menegakkan diagnosis kolitis?
Dokter akan mengambil data, mulai dari riwayat penyakit, riwayat keluarga, pemeriksaan fisik (perut dan colok dubur), laboratorium, pemeriksaan pencitraan. Dokter akan melakukan pemeriksaan dengan cermat karena adanya darah dalam feses selain terjadi pada kolitis juga dapat terjadi pada kanker kolon.
Pemeriksaan laboratorium meliputi tes darah lengkap, elektrolit, ginjal, sampel feses (feses lengkap, kultur feses). Pemeriksaan pencitraan berupa kolonoskopi biopsy, barium enema, juga CT scan.

Terapi apa yang akan dilakukan jika saya menderita kolitis?
Dokter akan memutuskan terapi berdasarkan kondisi klinis pasien dan penyebab yang mendasari terjadinya kolitis. Diantaranya:

  • Pemberian cairan adekuat secara intravena.
  • Tranfusi darah jika diperlukan
  • Diet cair tanpa serat, dimana dapat mengistirahatkan usus besar karena tidak menghasilkan ampas/sisa.
  • Obat-obatan: antibiotik, antinyeri, antiradang, imunosupresan, penghenti diare
  • Terapi bedah

Kapan penderita kolitis harus menjalani operasi?
Keputusan operasi tergantung dari keparahan penyakit, respon terhadap terapi konservatif dan penyebab. Operasi dapat dilakukan pada iskemik kolitis, penyakit Crohn’s atau kolitis ulseratif.

Pencegahan apa yang harus dilakukan supaya tidak menderita kolitis?
Kolitis yang disebabkan infeksi dapat dilakukan pencegahan seperti:
1. menjaga kebersihan makanan dan minuman
2. mencuci tangan sebelum makan
Penyebab genetik dan autoimun sulit dicegah, seperti pada kolitis ulseratif dan penyakit Crohn’s. Pada kolitis iskemik yang disebabkan oleh penyempitan pembuluh darah harus dilakukan pencegahan risiko terjadinya penyempitan di organ lain seperi stroke, serangan jantung, penyakit vaskular perifer dengan mengatasi faktor risikonya (stop merokok, kontrol tekanan darah, kolesterol dan diabetes).

Komplikasi apa yang dapat timbul pada kolitis?
Jika kondisinya parah kolitis dapat menyebabkan:

  • anemia
  • abses hati pada kolitis amuba
  • dehidrasi
  • hipoksia
  • syok
  • disseminated intravascular coagulation (DIC)
  • toksik megakolon
  • peritonitis
  • perforasi usus
  • obstruksi
  • hemolytic uremic syndrome (HUS) merupakan komplikasi penting pada kolitis karena enterohemorrhagic E coli (EHEC).

Perlu pertolongan medis yang adekuat untuk menghindarkan terjadinya kematian.

Bagaimana risiko kanker pada pasien kolitis?
Risiko terjadi kanker usus besar akan meningkat pada pasien kolitis ulseratif setelah 8-10 tahun, sumber pustaka lain menyebutkan 7-8 tahun dari awal diagnosis. Risiko berhubungan dengan durasi dan lama penyakit. Risiko kolitis ulseratif menjadi kanker bertambah kuat apabila ada riwayat keluarga kanker kolon.

48 Responses to Kolitis? Sakit apakah itu?

  • teguh n says:

    Salam dr. Betty..
    Saya terkena kolitis iskemik. Benarkah harus diet bebas susu dan menghindari sayuran-buah mentah serta berserat tinggi? Apakah kangkung dan bengkuang termasuk yang dipantang? Trims

  • dr. Betty Dwi Lestari, MSc., SpPD
    dr. Betty Dwi Lestari, MSc., SpPD says:

    Pak Teguh, diet pada kolitis iskemik pada prinsipnya adalah mengistirahatkan usus besar. Susu mengandung laktosa sehingga bisa memicu diare, tetapi yogurt yang merupakan susu fermentasi yang mengandung bakteri baik pencernaan baik untuk dikonsumsi. Sayuran dan buah mentah dan tinggi serat memberatkan kolon. Selain itu makanan cepat saji/fast-food dan minuman seperti kopi, teh dan soda bisa memicu diare. Bapak harus minum cukup cairan 8-10 gelas/hr, makan dalam jumlah sedikit tapi sering. Buah yang bagus adalah semangka karena mengandung banyak sitrulin, yaitu asam amino yang dapat memperbaiki sirkulasi. Semoga bisa membantu.

    • teguh n says:

      Terimakasih, dr Betty..
      seberapa lamakah saya harus menjalani diet ini? Karena kolitis ini hampir-hampir tanpa gejala. Ditemukan ‘tanpa sengaja’ saat mencari penyebab pendarahan BAB saya selama sebulan. Yang ternyata disebabkan goresan dihemoroid grade 2 saya.
      dan apakah kolitis iskemik ini bisa menyebar? Saat ini hanya ada di kolon asenden.
      sekali lagi terima kasih.
      salam..

  • Jimmy says:

    Salam kenal dr.Betty……
    Saya Jimmy tinggal di Surabaya. Anak perempuan saya usia 12 tahun dengan tinggi badan 165 cm dan berat bdn 40 kg, setelah diendoskopi dan cek histoPA diyatakan terkena penyakit
    ” Colitis Chronic Ulserosa Etiologi ”
    Dgn hasil histoPA sbb :

    Diag klinik : colitis chronic . IBD? Keganasan?

    -Gross : lima jaringan kecil2
    -Mikroskopik : ptongan2 mukosa colon sebagian epitel erosi ulserasi luas, tertutup debris PMN, kelenjar hilang, penuh radang limfosit dan plasma luas. Tdk tampak granuloma. Tdk tampak kapiler darah yg melebar. Potongan lain tampak mukosa intak, edematous dengan radang limfosit dan plasma luas serta eosinofil >20 per 1 HPF, kapiler darah tenang.  Tidak tampak gambaran spesifik maupun keganasan.

    -Kesimpulan : chronic colitis ulserosa (etiologi?)

    Saya ingin anak saya ditangani oleh dokter ahli gastrologi perempuan, bisakah dr. Betty memberikan saya ref. untuk dr perempuan yg ada di Surabaya ? Dan mohon bantuannya untuk bimbingan nutrisi dan pola makanan yang dianjurkan dan yg tdk dianjurkan untuk penyakit tsb. Sebelumnya saya ucapkan banyak” terimakasih atas bantuan dan sarannya.

    Salam hormat.
    Jimmy.

  • dr. Betty Dwi Lestari, MSc., SpPD
    dr. Betty Dwi Lestari, MSc., SpPD says:

    Pak Teguh, diet dilakukan sampai gejala klinis membaik. Untuk mencegah penyebaran bisa menghindari hal-hal yang memperberat proses iskemik, diantaranya pada arterosklerosis bisa dengan stop merokok, menjaga kadar kolesterol darah, cegah diabetes, kontrol tekanan darah. Semoga sehat selalu.

  • dr. Betty Dwi Lestari, MSc., SpPD
    dr. Betty Dwi Lestari, MSc., SpPD says:

    Pak Jimmy, salam kenal juga. Saya turut prihatin di usia yang cukup muda putri bapak sudah terkena kolitis. Semoga bisa cepat membaik. Seperti yang saya sebutkan di atas pada prinsipnya adalah mengistirahatkan usus besar dan menghindari bahan makanan yang mengiritasi dan memberatkannya. Masing-masing pasien kolitis ulseratif mempunyai kepekaan tersendiri terhadap makanan. Sebaiknya putri Bapak mempunyai catatan mengenai apa yang menyebabkan perutnya kram dan muncul diare. Secara garis besar yang dapat memberatkan kolitis ulseratifnya diantaranya adalah kopi, minuman berkafein, pedas, asam, susu dan produknya (bagi yang intoleransi laktosa), tinggi serat, sayuran dan buah yang dikeringkan, sayuran mentah, biji-bijian. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa konsumsi probiotik/bakteri pencernaan pada yogurt dan omega-3 pada minyak ikan dapat memperbaiki gejala kolitis ulseratif. Bapak bisa berkonsultasi dengan tim dokter di RS dr Sutomo Surabaya Penyakit Dalam subbagian Gastroenterologi untuk menangani kasus putri bapak. Semoga bisa membantu.

  • Jimmy says:

    Saya ucapkan banyak” terimakasih,

    Dok anak saya sudah ditanggani oleh salah satu Prof di Surabaya. Dan sebagai pengobatannya anak saya diberikan obat sejenis steroid. Dan dianjurkan untuk di Endoscopy ulang. Yang mau saya tanyakan apakah obat sejenis steroid itu tidak berbahaya untuk anak saya dan bagaimana efek sampingnya. Dan bolehkah dalam tempoh 1 bulan anak saya akan di endoscopy ulang untuk kedua kalinya. Mohon bantuan saran dari dokter. Sebelumnya saya haturkan banyak terimakasih atas bantuan saran dari dokter.

    Salam hormat saya,

    Jimmy.

  • dr. Betty Dwi Lestari, MSc., SpPD
    dr. Betty Dwi Lestari, MSc., SpPD says:

    Pak Jimmy, semua obat baik steroid ataupun bukan tidak berbahaya jika diberikan dalam dosis yang tepat dan dalam pengawasan ahlinya. Sebaliknya semua obat akan berbahaya jika dipergunakan berlebihan dan tidak dalam pengawasan ahlinya. Endoskopi ulang memang diperlukan untuk mengevaluasi terapi dan perkembangan penyakitnya, endoskopi cukup aman dilakukan berulang.

  • Riza Amir says:

    Assalamu’alaikum dr. Betty, salam kenal. Saya Riza Amir, umur 22 thn, saya sudah menderita sakit kolitis kurang lebih selama 4 thn. Saya sudah berobat ke dokter spesialis pencernaan. Yg saya ingin tanyakan, apakah penyakit ini bisa sembuh dok? Dan apa-apa saja makanan yg harus saya jauhi agar tidak memicu penyakit ini semakin berkembang ditubuh saya.
    Salah satu dokter spesialis saya menyarankan agar saya melakukan operasi, dimaksudkan disini membuang usus yg sdh terserang kolitis tsb. Mohon bantuannya dok. Terimakasih.

  • dr. Betty Dwi Lestari, MSc., SpPD
    dr. Betty Dwi Lestari, MSc., SpPD says:

    Wa’alaikumsalam. Pak Riza, jika terapi konservatif (obat-obatan dan diet) tidak memberikan hasil yang memuaskan memang sebaiknya dioperasi.

  • Riza Amir says:

    Sejauh ini pengobatan tersebut membantu dok, walaupun kadang penyakit tersebut tiba-tiba kambuh. Kira-kira apa saja makanan yg harus saya jauhi dok ??

  • dr. Betty Dwi Lestari, MSc., SpPD
    dr. Betty Dwi Lestari, MSc., SpPD says:

    Jawabannya sama dengan yang saya jawab untuk pertanyaan Pak Teguh dan Pak Jimmy di atas. Pak Riza bisa menghindari makanan yang memberatkan usus.

  • rozi says:

    Assalamualaikum dokter Betty.
    Saya rozi, umur 25 th. Saya ingin berkonsultasi dg dokter ttg penyakit saya. Pada tahun 2009, saya didiagnosa terkena penyakit infeksi usus besar.Gejala yg saya rasakan adalah:
    - terganggunya pencernaan saya. Saya sangat sering susah BAB, dan setelah itu pasti berganti dengan diare.
    - perut saya sering sembelit, kram dan juga perut saya terasa sangat besar, tp setelah BAB perut saya sangat tipis/kecil.
    Selama ini saya mengonsumsi obat ciprofloxacin dan spasmal. Kedua obat itu memang sgt membantu, tp setelah berhenti mengonsumsi, gejalanya mucul kembali.
    Yang ingin saya tanyakan: Apakah kolitis sama dengan infeksi usus besar? Apa yang harus saya lakukan agar tidak kambuh lagi? Dan bagaimana menurut dokter tentang penyakit saya?
    Atas perhatian dan bantuannya, sebelumnya saya mengucapkan terima kasih.

  • dr. Betty Dwi Lestari, MSc., SpPD
    dr. Betty Dwi Lestari, MSc., SpPD says:

    Pak Rozi, kolitis bisa disebabkan oleh infeksi, tetapi tidak semua infeksi adalah kolitis. Sebaiknya dalam mengkonsumsi antibiotik berkonsultasi dengan dokter. Untuk lebih memastikan jenis kelainannya dapat dilakukan kolonoskopi dan biopsi. Makanan yang mengiritasi dan memberatkan pencernaan sebaiknya dihindari.

  • YTH TS: dr. Betty Dwi Lestari, MSc., SpPD.
    di Tempat
    Aswrwb.
    Maaf mengganggu waktunya, dok… Kami ada permasalahan…Begini:
    1. Bagaimanakah cara cepat membedakan kolitis ulseratif dan kolitis iskemik di setting pelayanan primer, UGD,dan klinik?
    2. (suspek) kolitis bagaimana yang disarankan / diarahkan untuk endoskopi, kolonoskopi, dan biopsi?
    Mohon pencerahan dokter. Terimakasih atas jawaban yang diberikan. Semoga dokter sekeluarga diridhoi Allah selalu, sukses, bahagia dunia – akhirat !!! Amin 3x.
    Waswrwb.
    Hormat kami,
    Dito Anurogo
    Buruh Kesehatan

  • dr. Betty Dwi Lestari, MSc., SpPD
    dr. Betty Dwi Lestari, MSc., SpPD says:

    dr Dito, secara klinis sulit dibedakan antara kolitis ulseratif dan iskemik. Suspek kolitis dengan nyeri perut berulang dan gangguan pola BAB yang berulang, apalagi disertai darah sangat disarankan dilakukan kolonoskopi karena harus ada kepastian untuk menyingkirkan kemungkinan keganasan. Terima kasih doanya, sukses juga buat dr Dito

  • fadwira says:

    Permisi dok,,
    Nama saya Fajar Dwi Rahman 21 tahun.
    Saya baru saja terkena kolitis dan tidak perlu dioperasi melainkan diharuskan mengkonsumsi obat selama 3 bulan..
    pertanyaan saya :
    1. dokter mengatakan bahwa , kolitis tidak boleh memberatkan usus besar.. bagaiamanakah ciri ciri yang dirasakan ketika usus sedang bekerja berat??
    2. benarkah bahwa kolitis dilarang mengkonsumsi lemak ??
    3. sebelum kena penyakit ini badan saya tergolong gemuk , tetapi 1 minggu setelah dirawat di RS badan saya hampir ideal,,apakah berat badan saya bisa gemuk lagi dok ?? :D
    4. apakah kolitis bisa kambuh ??
    5. setelah dirawat badan saya terasa sangat lemah , itu kenapa ya dok??
    6. bolehkah saya mengkonsumsi buah?? kalau boleh buah apa aja dok yang menjadi pantangan??
    7. biji bijian yang dilarang itu maksudnya apa dok?? apa kacang yang dihaluskan ( bumbu kacang ) atau bubur kacang hijau dilarang ??
    8. adakah bahan alami alternatif yang dianjurkan dr Betty?? contoh : kata orang dulu buah sawo itu baik untuk usus , apakah benar ??
    9. udah dok , terima kasih dan mohon maaf kalo kebanyakan tanya… heehehhe

  • dr. Betty Dwi Lestari, MSc., SpPD
    dr. Betty Dwi Lestari, MSc., SpPD says:

    Mas Fajar … seperti ujian ya .. pertanyaannya banyak …. :-)
    Usus jika berat bekerja akan menimbulkan rasa tidak nyaman di perut dan melilit/sakit. Penderita kolitis sedang mengalami peradangan di usus besar, jika mengkonsumsi banyak lemak bisa memicu diare. Sebaiknya dijaga agar berat badan tetap ideal untuk menghindari risiko penyakit lain. Kolitis bisa kambuh, pemicu kambuhnya tergantung jenis kolitisnya bisa dipicu makanan yang merangsang dan adanya infeksi serta adanya perburukan sistem imun. Buah mentah dan yang mengandung tinggi serat sebaiknya dihindari. Untuk buah sawo saya belum pernah membaca penelitiannya pada penderita kolitis. Semoga bisa membantu

  • gwen says:

    Halo dok, dok saya bulan agustus ini tgl 16 malam berobat ke dokter penyakit dalam, terus diberi obat clindamycin, pertama kali saya minum saya rasa seperti obatnya nyangkut di bagian perut di bawah sternum, rasanya nyeri, panas, pokoknya tidak enak dok rasanya, besok paginya saya coba minum lagi malah tambah parah rasa nyerinya, terus saya sudah hentikan minum obat clindamycinnya tapi sekarang masih terasa nyerinya apa lagi kalau pas saya makan dok, pas makanannya masuk langsung terasa nyeri sekali di daerah perut bagian bawah sternum. Itu kenapa ya dok? Apa itu di bilang colitis juga? Cara penanganannya bagaimana dok? Mohon balasannya dok, makasih dok.

  • dr. Betty Dwi Lestari, MSc., SpPD
    dr. Betty Dwi Lestari, MSc., SpPD says:

    Mbak Gwen, keluhan yang dirasakan adalah efek samping yang muncul akibat minum clindamycyn. Sebaiknya obat di stop dan diganti dengan yang lain. Bisa diberikan obat proteksi lambung untuk mengurangi keluhan.

  • vico adi says:

    Assalamualaikum wr wb dokter.
    Salam kenal. saya ingin konsultasi tentang
    anak saya. anak saya lahir prematur (31
    minggu) secara sectio karena ketuban pecah
    dini dengan berat 1345 gram. Dua hari setelah
    lahir dicoba diberikan ASI, tetapi muntah
    sehingga dipuasakan smp sekarang. Lalu
    perutnya agak membesar. Dokter mendiagnosa
    dengan NEC grade 1 dan diberikan antibiotik
    meropenem dan metronidazol. Saat ini sudah
    hampir 1 bln tetapi blm ada perbaikan.
    perutnya semakin membesar shg nafasnya
    agak berat dan dipasang alat bantu nafas.
    hasil kultur darah steril, Hb trombosit dan
    albumin rendah sehingga ditranfusi PRC,TC dan
    albumin. penanda infeksi meningkat. Feses
    keluar tp sedikit. Hasil foto abdomen menurut
    dokter bedah tidak ditemukan indikasi bedah.
    selain alat bantu pernafasan, saat ini terpasang
    NGT dan rectal tube. Yang ingin saya
    tanyakan:
    1. Apakah ada indikasi penyakit yg lain?
    2. Apakah ada antibiotik yg lebih baik dr
    antibiotik yg sudah diberikan saat ini?
    3. apakah ada saran tindakan apa yang harus
    saya lakukan.
    Terima kasih dok..Jazakumullah khoiron katsiron..

    • dr. Betty Dwi Lestari, MSc., SpPD
      dr. Betty Dwi Lestari, MSc., SpPD says:

      Wa’alaikumsalam Pak Vico.
      Saya dokter penyakit dalam, keluhan pada anak yang baru lahir ditangani oleh dokter anak ahli perinatologi.
      Semoga putra bapak cepat sembuh

  • Mas Ono says:

    Dokter, mungkin saya kurang teliti dalam membaca setiap apa yang anda tulis di halaman ini, yang ingin saya tanyakan setahun belakangan ini saya mengalami gejala setiap sehabis makan saya mengalami masalah pada ulu hati sebelah kiri, rasanya seperti ada sesuatu yang mengganjal (mendorong ke atas), dan itu membuat saya kuatir dan merasa tidak nyaman. sehingga saya harus sering menekan-nekannya untuk mengurangi rasa itu. Kadang saya juga berbaring dan rasa itu lenyap seketika namun akan kembali terasa mengganjal ketika saya duduk lagi. Mohon penjelasan dari dokter dan terimakasih atas waktu dan balasannya.

  • dr. Betty Dwi Lestari, MSc., SpPD
    dr. Betty Dwi Lestari, MSc., SpPD says:

    Mas Ono, di ulu hati terdapat beberapa organ yang saling berdekatan diantaranya lambung, liver, empedu, pankreas. Rasa mengganjal tersebut harus dipastikan berasal dari organ yang mana, perlu pemeriksaan fisik langsung. Jika perlu akan dilakukan juga pemeriksaan penunjang seperti USG atau CTscan.

  • ana says:

    Assalamualikum…dok,,saya Ana umur 36 th,sudah hampir 2 tahun ini sakit kolitis dari hasil kolonoskopinya biopsi: tidak tampak keganansan ,proktitis kronis, kolom rektum dan sigmoid hiperemis..selama ini diberi obat sa***alk 500mg dosis 3xsehari dan kalo agak berat ditambah bu*****alk, tiap minum obatnya ada perubahan tapi begitu saya stop obatnya berapa hari kambuh lagi, BAB tidak berdarah tapi selalu ada lendir, kadang diare …harus bagaimana lagi dok..mohon bantuannya, apa tidak bisa sembuh dan apa harus selamanya minum obat…?

  • dr. Betty Dwi Lestari, MSc., SpPD
    dr. Betty Dwi Lestari, MSc., SpPD says:

    Wa’alaikumsalam Bu Ana, kolitis memang bisa remisi tetapi kadang bisa kambuh kembali apabila pemicunya muncul. Pemicu tergantung jenis kolitisnya, bisa dari makanan, stress, infeksi. Sebaiknya menghindari hal-hal yang menyebabkan kambuh.

  • lani says:

    Saya Lani 24thn..saya mau menanyakan kepada Dokter, apakah ada hubungannya antara tipes dengan kolitis?
    Saya sudah terkena tipes sebanyak 6 kali dan sering merasakan nyeri pada perut sebelah kiri, nyeri akan terasa sangat hebat bila saya banyak gerak.

  • dr. Betty Dwi Lestari, MSc., SpPD
    dr. Betty Dwi Lestari, MSc., SpPD says:

    Mbak Lani, kolitis adalah peradangan di usus besar dengan sebab bermacam-macam seperti yang saya sebutkan di artikel di atas. Typhoid merupakan kuman yang menginfeksi usus. Bisa jadi keduanya berkaitan, bisa jadi juga tidak. Sebaiknya dilakukan pemeriksaan fisik lebih lanjut untuk mengetahui kemungkinan penyebab nyerinya, jika perlu juga dilakukan pemeriksaan penunjang untuk mendukung diagnosis.

  • Putri says:

    Assalamualaikum dok, izin bertanya.
    Umur saya 17 tahun, beberapa bulan kebelakang feses saya berlendir dan berdarah. Sudah ke dokter dan diendoskopi, hasilnya saya menderita ulcerative colitis rectum. Kalau minum obat sih memang berhenti darahnya, tapi kalau obatnya habis darahnya langsung keluar lagi. Penyakit seperti ini bisa sembuh tidak dok? terus ada tidak obat anternatif lain?
    Terus sekarang malah anus saya sering berdenyut, itu tandanya apa ya dok? Apakah jadi hemoroid?
    Terimakasih dok :-)

  • dr. Betty Dwi Lestari, MSc., SpPD
    dr. Betty Dwi Lestari, MSc., SpPD says:

    Wa’alaikumsalam mbak Putri, beberapa jenis kolitis memang bisa kambuh-kambuhan. Bisa sembuh total atau kambuh-kambuhan tergantung jenisnya. Kolitis ulseratif adalah kolitis karena autoimun biasanya akan kambuh-kambuhan. Sebaiknya segera ditangani jika kambuh. Sering berdenyut anusnya dan disertai muncul benjolan bisa jadi hemorrhoid. Perlu dipastikan dengan pemeriksaan rectal toucher atau kolonoskopi ulang jika diperlukan.

  • sinta says:

    Assalamualaikum Dok,
    Saya sakit pencernaan (diare) mei 2011, saya ke dokter umum diberi antibiotik dan didiagnose terkena disentri amoeba tanpa pemeriksaan feses ataupun darah. Setelah saya minum obat 3 hari, diare saya waktu itu tidak membaik malah tambah parah, akhirnya saya di rawat di RS yang sama, oleh dokter spesialis penyakit dalamnya obat antibiotik yg diberikan di buang di tempat sampah dengan mengatakan saya seharusnya tidak diberi obat tersebut. Saya agak shock tapi apa boleh buat saya terlanjur mencobanya.
    Itu awal dari perjuangan saya dokter, oleh dokter tersebut saya di tes feses dan darah, di feses saya ditemukan jamur. Saya diberi obat jamur, obat maag juga. Selama di rawat di sana saya merasakan sesak nafas, sehingga saya di beri oksigen. 2 hari di sana, anak saya yg kecil 2 th masuk rumah sakit berbeda, saya dipindahkan ke sana satu kamar dan dengan dokter berbeda, saya diberi cyprofloxaxin, obat maag dan pankreatin. Sepulangnya dari sana saya bertambah lemah. Saya tidak dapat berjalan jauh dan terbaring kurang lebih 8 bulan, turun kurang lebih 6 kilogram.

    Karena tidak masuk kantor rekan-rekan saya membawa saya ke rumah sakit yg berbeda, saya lagi-lagi diberi obat maag (Pa*****l, M****a dan e*****ex). dan selama itu saya selalu diare, tanpa ada keringanan, badan saya tambah lemah, saya rasa saya agak stress juga dengan penyakit saya.

    Akhirnya ibu saya membawa saya ke alternatif herbal selama 3 bulan saya ke sana saya mulai dapat tenaga dan tambah berat badan 4 kiloan. Pengobatan stop dengan tuntas.

    Anak saya terkena cacar air, tidak lama saya juga tertular di bulan November 2011. Januari 2012 saya merasa pusar saya tertarik-tarik dan perut kanan bawah juga sakit (saya takut usus buntu), dada kanan saya sakit sekali dan punggung terasa linu/tertusuk atau seperti memar di pegang sakitnya. Akhirnya saya ke dokter lagi, diberikan obat maag dan dirujuk ke RS lain untuk Endoscopy.

    Saya pergi ke rumah sakit tersebut untuk Endoscopy, dokter spesialis penyakit dalam disana menyarankan saya untuk colonoscopy juga. begitu mau melaksanakannya saya terpaksa menunda karena asuransi tidak mencovernya dengan alasan diagnosa saya IBS (Irritable Bowel Syndrom) dan Dyspepsia.

    Alhasil saya menabung dulu untuk itu. Juli 2012 karena saya sakit-sakitan perusahaan memberhentikan saya, Juli juga saya kambuh (diare berat) dan akhirnya memutuskan untuk endoscopy dan colonoscopy. Hasilnya adalah saya terkena Gastritis ringan dengan hiatal hernia, kolitis aktif (mukosa hiperemis di cecum dan juga dari colon descendent sampai rectum), hasil biopsi tidak menunjukkan keganasan. Setelah 4 bulan pengobatan rutin, penyakit saya mulai berkurang dan bisa bekerja normal (kebetulan saya sdh bekerja lagi di tempat lain) mulai akhir September/awal Oktober.
    Pengobatan saya tuntas, dan berakhir Desember 2012 (saya di beri M*****a, S*****lk, p******l, F*****an). Bulan terakhir hanya M*****a dan F*****an.

    Bulan Desember 2012 lalu, anak dan suami sakit demam berdarah, saya menjaga mereka di rumah sakit.
    Mereka sdh sehat kembali, sementara saya terkena batuk pilek dan dalam kondisi tidak berani minum obat batuk karena takut maag dan pencernaan terganggu. Karena saya tidak masuk hampir 2 minggu, pekerjaan saya di kantor menumpuk. Pagi ini saya mulai diare dan nyeri perut, tangan keringat dingin hampir sama ke kondisi saya sakit tahun lalu, akan tetapi badan tidak terlalu lemah. Saya menkonsumsi buah pepaya rutin, agar-agar, sayur bayam, nasi, semur ayam/daging, rumput laut.

    Apa saya harus pengobatan dari awal ?

    terima kasih

  • dr. Betty Dwi Lestari, MSc., SpPD
    dr. Betty Dwi Lestari, MSc., SpPD says:

    Ibu Sinta, kolitis bisa kambuh dan bisa mengalami remisi/sembuh sementara. Sepertinya kondisi ibu yang kelelahan dan kurang fit menyebabkan kolitis ibu kambuh. Sebaiknya ibu menjalani kembali pengobatan kolitis dan berkonsultasi kembali dengan dokter penyakit dalam yang merawat ibu sebelumnya.

    • maswita says:

      Assalaamu’alaikum wr. wb. Dokter, saya menderita sakit kolitis. Hal ini baru diketahui setelah di endoscopy 8 bulan yang lalu, kelihatan adanya bolong bolong pada usus. Kata dokter sakit ini tidak bisa sembuh kecuali diganti dengan usus plastik. Untuk pengobatan saya dikasih obat su****is, akan tetapi makan obat atau tidak mulut selalu terasa kering, tangan dan kaki sering keram, pinggang sering sakit, dan mata sering berkunang kunang. Perut sering terasa sakit. Pertanyaan saya
      1. Apakah benar penyakit ini tidak bisa sembuh.
      2. Bagaimana cara lain yang harus saya lakukan selain operasi
      3. Apakah sakit ini bisa menjadikan seseorang stroke.
      Terimakasih atas penjelasan Dokter

      • dr. Betty Dwi Lestari, MSc., SpPD
        dr. Betty Dwi Lestari, MSc., SpPD says:

        Wa’alaikumsalam. Tidak bisa sembuh ini bukan dalam artian tidak bisa baik. Semua penyakit ada obatnya dan kesembuhan itu datang dari Allah. Dengan berusaha/berikhtiar insya Allah bisa baik/sembuh/remisi. Memang bisa kambuh-kambuhan, tetapi bisa diminimalisirkan dengan mengurangi stress dan menjaga makanan. Pasien kolitis memang berisiko stroke, tetapi jarang terjadi. Risiko stroke ini lebih rendah dibanding dengan risiko stroke pada pasien diabetes, perokok, penderita kolesterol tinggi. Sebaiknya menjalani hidup sehat biar tidak terjadi komplikasi tersebut.

  • Sinta says:

    Halo dokter, saya penderita kolitis aktif sedang dan hiatal hernia plus gastritis ringan dengan ulkus peptikum. Dokter spesialis menuntaskan pengobatan saya desember lalu. Pagi ini saya meludah 3 kali dan dalam cairan tsb saya temukan darah spt serat2 ,apakah ini karena luka pada esofagus saya atau pada lambung. Apakah yg harus saya lakukan dokter? Teeima kasih:-)

    • dr. Betty Dwi Lestari, MSc., SpPD
      dr. Betty Dwi Lestari, MSc., SpPD says:

      Bu Sinta, harus dicari asal perdarahannya, apakah dari saluran cerna atau saluran nafas. Bisa dilakukan endoskopi dan rotgen paru

  • sera says:

    Hai dokter. Setahun yang lalu saya menderita penyakit kolitis namun sampai sekarang penyakit saya tidak juga sembuh. Seberapa besar kemungkinan untuk terkena kanker kolon? Apa penyakit itu bisa disembuhkan?

    • dr. Betty Dwi Lestari, MSc., SpPD
      dr. Betty Dwi Lestari, MSc., SpPD says:

      Kolitis bisa sembuh atau tergantung penyakit yang mendasarinya/underlying disease. Sebagian besar bisa sembuh dan bisa kambuh lagi. Kanker kolon lebih berisiko pada pasien kolitis, tetapi kanker bisa terjadi berdasar teori multifaktorial. Pola hidup sehat bisa dilakukan untuk mencegah kanker kolon

  • Suryani says:

    Salam dr. Betty yang mulia, yang telah meluangkan waktu untk mendengar keluh kesah si sakit dalam blog ini,
    Saya adalah ibu dari dua orang anak yang lahir dengan kondisi kepala microcepalus, dan terakhir di Cipto didiagnosis kelainan lahir tersebut disebabkan virus toxo dan cmv.
    Sekarang anak saya udah umur 22 tahun laki-laki dan 19 tahun perempuan, tahun 2007 anak saya yang perempuan mengalami malena berat yang Hb-nya sampai 5 dan diagnosis dokter waktu itu harus dioperasi karena penyakit diverticulummicel, tetapi saya second opinion di RSPP Jkt dan dilakukan colonoscopy dan endoscopy, serta rotgen dengan pencitraan atau nuklir tapi tidak ditemukan penyakit tersebut.
    Tahun 2008 kakaknya yang laki-laki juga begitu dan dilakukan colonoscy dan endoscopy juga tidak pasti penyebabnya, dari tahun 2009 anak anak kami tersebut pendarahan berulang atau malena yang dilakukan adalah tambah darah 1000 sampai 1500 cc pendarahan berhenti kami pulang.
    Terakhir dgn Prof AR anak kami dikasih obat p****t 1×1 dan m*****a 3 x 1, tapi apa kepastian penyakit anak kami, sampai sekarang belum dapat dipastikan, karena sumber pendarahan sampai sekarang belum ditemukan, walaupun sudah dilakukan colonoscopy, endoscpy dan ctscan, nuklir dll, kami hanya hidup dalam kecemasan, karena pemicunya juga tidak tahu, anak-anak kami juga kurang bisa menerangkan apa yang dia rasakan atau gejala yang dia rasakan kalau mau kambuh pendarahannya. Sampai kapan kami bisa bertahan menghadapi 2 orang anak pendarahan kadang-kadang bisa satu bulan sekali atau 3 bulan sekali. Tanpa ada kepastian apa pemicunya, kemana kami harus konsultasi lagi?

    • dr. Betty Dwi Lestari, MSc., SpPD
      dr. Betty Dwi Lestari, MSc., SpPD says:

      Ibu Suryani, saya ikut prihatin dengan kondisi putra putri ibu. Penyakit yang diderita cukup kompleks. Perlu pemikiran dari berbagai disiplin ilmu, seperti gastroenteroligist, bedah digesti, juga hematooncologist. Banyak ahli yang berpengalaman di klinik Kencana RSCM. Ibu bisa membawa hasil-hasil pemeriksaan ke sana untuk berkonsultasi dengan ahli-ahli tersebut.

  • n0vie says:

    Asslaamu’alaikum.wr.wb..

    Dokter, kakak saya 1 bulan yang lalu terdiagnosa kolitis, dokter menganjurkan istrahat total & pengobatan selama 3 bln. Yang menjadi pertanyaan saya
    1. kenapa sampai bulan kedua ini masih diare kadang disertai demam?
    2. tindakan apa yang harus dilakukan? apakah boleh meminum obat warung antidiare?
    3. apa penyebab diarenya lama sekali?
    4. apakah dalam 3 bulan menkonsumsi obat-obatan secara berkala aman bagi penderita?

    Mohon petunjuknya dokter. Terima kasih

    • dr. Betty Dwi Lestari, MSc., SpPD
      dr. Betty Dwi Lestari, MSc., SpPD says:

      Wa’alaikumsalam wr. wb. Diare dan demam menunjukkan penyakitnya masih berlangsung. Tidak semua obat antidiare di warung aman buat kolitis, sebaiknya diperiksa dan mendapat pengobatan dari dokter. Kolitis memang perlu kesabaran untuk mencapai kesembuhan dan perlu pencegahan untuk tidak sering kambuh, seperti menghindari stress dan memilih makanan yang sesuai.

  • luzman says:

    Assalamualaikum dokter,
    Saya Luzman 19 tahun. September 2012 saya didiagnosis colitis ulcerative karena hiperemis dari rectum sampai colon descenden dari hasil colonoscopy. Saya diterapi dengan sulfasalazine. Keluhan saya cukup aneh, yaitu terus menetes air dari anus saya, tapi tidak berdarah. Baru-baru ini saya diberi resep budenoside tapi obatnya mahal sekali. Apakah budenoside memang harus diberikan dok? Ada pengganti obat yang lain dok? Terima kasih dokter.

  • dsr says:

    Assalaamu’alaikum wr. wb. dokter,
    Saya pria, usia saat ini 57 tahun terkena IBD /Colitis Ulcerative, setahun yang lalu, dirawat 20 hari di RS diobati dan sembuh, setahun kemudian terkena lagi IBD /Colitis Ulcerative (dari hasil colonoscopy yg kedua ini, diketahui tingkat keparahannya 60% dari kondisi yang pertama setahun yg lalu), penyebabnya baik yang pertama maupun yang kedua tidak begitu jelas diketahui, diduga auto immun, karena dugaan auto immun itulah saya harus menkonsumsi obat seumur hidup, meskipun kondisi colon saya sudah normal. Jujur obat yang harus saya konsumsi sangat mahal untuk ukuran saya (sa****lk dan i***an). Untuk serangan kedua diduga karena saya tidak disiplin meminum obat setelah sembuh dari serangan yang pertama yang seharusnya saya minum seumur hidup saya. Pertanyaannya adalah apakah ada pendapat lain dari dokter tentang hal yg saya sampaikan? Terimakasih dokter

  • yovi says:

    Dok, ibu saya umur 47th, 2 bulan yang lalu menjalani kolonoscopy dan hasilnya kolitis kronik non spesifik, dokter hanya bilang harus banyak makan dan vitamin. Minum obat sa****lk, al*na****, mef****in, pu****or kok malah semakin parah dok? Apa saja pantangan makanannya dok?

    • sinta says:

      Saya didiagnosa dokter setelah hasil colonoscopy dan gastroscopy terkena kolitis kronika, radang lambung dan hiatal hernia (lambung naik ke dada)Juli 2012. Dugaan penyebabnya adalah faktor makan tidak teratur, lelah dan stress. Ada juga dokter yg menyatakan saya terkena autoimune.
      Saya mau sharing kepada semua dan ibunda Yovi. Banyak yang bilang penyakit ini sukar sembuh. Benar adanya, tapi jangan putus asa…kita usahakan memanagenya sebaik mungkin, bekerjasama dengan penyakit atau berteman supaya dapat hidup dengan baik.
      Penyakit ini dapat dikontrol dgn menjaga 3 pola: pola makan, pola tidur dan pola pikir. Makan yang aman (tidak pedas,kecut,asam), lembut (bubur,havermut atau nasi lembek) dan cukup gizi (tanyakan ahli gizi mengenai alternatif makanan pengganti dgn akg yg sama atau mendekati), pola tidur (coba tidur sehari 8 jam atau minimal pubya ritme yg sama),karena tubuh sebenarnya punya jam biologis, yg ketiga dan yg paling penting adalah pola pikir (jangan biarkan negatif thinking,kecemasan akan penyakit dll menguasai anda) karena jika kita bahagia tubuh kita akan menyembuhkan diri sendiri (hati yg bahagia adalah obat,obat hati yg senang…tapi semangat yg patah keringkan tulang, hati yg senang Tuhan senang) …
      Jangan stress…, ikuti dokter dan obat yg diminum sesuai petunjuk dan jika kontrol ceritakan detail rasa yg anda rasakan…serta yakin dan percaya penyakit ini bisa sembuh…jangan lupa memohon kepadaNya untuk kesembuhan :-) …sayangi diri anda…bahagiakan…Insya Allah semua penyakit ada obatnya…
      Semoga semua diberikan kesehatan yaaa…amin YRA

  • sheren says:

    Selamat malam dokter.
    Saya Sheren usia 16 tahun lebih 3 bulan ingin bertanya sebulan yang lalu saya melakukan kolonoskopi dan hasil kolonoskopi mengatakan bahwa pada kolon saya terdapat IBD, sudah diberi obat anti radang namun tidak membaik, dan apa saja ya dok pantangan makanan buat penderita seperti saya.
    Apakah penyakit IBD saya dapat berbahaya apabila sudah ditangani tapi tdk membaik ? Terima kasih

  • Adi wibowo says:

    Dok perut saya tiba-tiba kram dan terus menerus. Saya sudah diUSG katanya kolitis danasam lambung saya naik.
    Dan sering kembung. Saya hanya makan nasi dengan sup kadang bisa kambuh.
    Datangnya mendadak,sampai di punggung saya sakit dok. Periksa ke dokter cuma dipencet-pencet perutku yang sakit hanya bagian atas. Saya hanya bisa tiduran saja dok kalo buat berjalan atau duduk sakit. Bagaimana dok cara mengobatinya ?
    Kadang sakitnya itu seperti ditusuk-tusuk, kayak tidak kuat dok…..kadang perut terasa keras sekali.
    Makanan apa yang boleh saya konsumsi ? Bisa sembuh tidak dok?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Recent Comments
"Biasakan BAB tiap hari. BAB yg sulit meningkatkan resiko ca colon"
over a year ago
"Survey di Amerika:3000 org perokok pasif meninggal per tahun karena kanker paru. Perokok pasif lbh berbahaya krn menghisap asap tanpa filter"
over a year ago
"Kanker Paru 90% karena asap rokok. Baik pada perokok aktif atau pasif yg terpapar terus menerus. Jauhkan terutama anak2 dari asap rokok"
over a year ago
"@VikoVit tdk apa2...sehat selalu ya ;-)"
over a year ago
"Sel mengalami mutasi gen menjadi kanker kalau terpapar zat karsinogen terus menerus sehingga DNA berubah"
over a year ago

Terima kasih telah mengunjungi website ini. Website ini saya bangun sebagai upaya memberikan informasi kepada masyarakat mengenai penyakit dalam.
Silahkan memanfaatkan fitur tanya jawab online untuk berkonsultasi seputar ilmu penyakit dalam. Semoga website ini bisa bermanfaat bagi anda semua.

Dapatkan informasi kesehatan penyakit dalam dengan cara mendaftarkan email anda. Terima kasih

Join 210 other subscribers

Hasil lab feses

This post send by fitri suhermawati Assalamualaikum dokter Betty. Terimakasih sebelumnya telah merespon pertanyaan saya. Begini dok, bayi perempuan saya

Read more

 
Batu Empedu

This post send by Rino Sebastian Dear dr. Betty, Saya Rino, Saya di diagnosa dokter mengalami batu empedu dan katanya

Read more

 
Tes HIV please help

This post send by adi Dear dokter, Pada tanggal 22 Mei 2014, saya beserta istri melakukan test lab untuk penyakit

Read more

 
Feses hitam, sering muntah, uluhati perih

This post send by Erick gunawan Salam dok. Saya ingin mencari informasi mengenai penyakit yang saya derita selama beberapa tahun

Read more