Perkataan amputasi bagi setiap pasien diabetes sangat menakutkan, karena selalu dikaitkan dengan pikiran cacat dan tidak bisa berjalan kembali. Namun itu tidak selalu benar, karena kriteria penderita yang harus menjalani amputasi didasarkan grade yang dijelaskan dr. Betty Dwi Lestari, MSc. SpPD, ada 5 grade yakni, grade 0 yang artinya kondisi masih normal, grade 1 sudah terjadi luka tetapi belum masuk ke dalam, grade 2 sudah mulai masuk ke otot dan tendon, grade 3 sudah sampai ke tulang, grade 4 sudah ada gangrene, sudah mulai amputasi tetapi terbatas hanya pada jari kaki yang sifatnya local.

Sedangkan yang grade 5 masuk ke amputasi sebatas lutut dan akan menimbulkan kecacatan, imbuh dr. Betty.

Pencegahan, menurut dr. Betty merupakan hal yang paling baik untuk menghindari komplikasi ini. Berikut ini hal-hal yang dapat dilakukan untuk menghindari gangrene pada kaki penderita DM.

  • Periksa kondisi kedua kaki, jika mungkin lakukan setiap hari. Lakukan pada saat senggang, apakah terdapat luka, lecet, atau lebam. Pada penderita yang sudah mengalami gangguan persarafan, kadang luka atau lecet tidak dirasakan sama sekali. Akhirnya luka bertambah besar dan membusuk. Mintalah bantuan keluarga untuk membantu memeriksa apakah ada kelainan.
  • Kaki harus setiap hari dibersihkan dan segera dikeringkan. Bersihkan kaki dengan air hangat, bukan air panas agar tidak terjadi kerusakan kulit. Karena persarafan sudah rusak, air panas bisa tidak dirasakan oleh penderita, padahal kulit bisa rusak oleh air tersebut. Keringkan dengan seksama dan jangan lupa mengeringkan pada daerah di antara jari. Jika lembab atau basah, kulit mudah terkelupas dan terluka.
  • Jangan berjalan-jalan tanpa menggunakan alas kaki. Luka yang kecil akibat tidak memakai alas kaki, mungkin saja terjadi dan penderita tidak merasakan. Pada akhirnya luka bisa bertambah besar tanpa penanganan yang tepat.
  • Pastikan Anda menggunakan sepatu yang sesuai, jangan terlalu kecil atau terlalu besar. Pastikan tidak ada sudut pada sepatu yang terlalu menekan kulit atau tajam, hingga dapat membuat luka. Jika perlu gunakan kaus kaki yang nyaman dan agak tebal untuk melindungi kulit dari gesekan yang kuat. Khusus wanita hindari sepatu berhak tinggi.
  • Gantilah kaos kaki setiap hari. Jangan menggunakan kaos kaki yang terlalu ketat/elastic, sebaiknya kaos kaki wool. Khusus wanita tidak dianjurkan memakai stocking.
  • Kaki harus setiap hari dibersihkan dan segera dikeringkan. Ada baiknya bila setelah dikeringkan digosok dengan bahan berminyak seperti cream oil agar kaki tidak terlalu kering. Jangan sekali-kali merendam kaki pada air hangat atau panas, sebab perubahaperubahan temperature membebankan metabolisme jaringan kaki.
  • Segera sampaikan ke dokter jika penderita merasakan adanya perubahan sensasi pada kaki. Misalnya rasa kesemutan, nyeri terbakar, atau rasa baal. Mungkin saja hal ini merupakan tanda adanya kerusakan saraf. Jangan dibiarkan, karena kerusakan saraf membuat luka tidak terasa hingga berujung pada amputasi.
  • Penderita DM kadang kulitnya kering dan pecah-pecah. Kondisi ini membuat bakteri mudah masuk, dan sulit menyembuhkan infeksi. Gunakan pelembab secukupnya, jangan terlalu lembab, karena jika terlalu lembab kulit mudah terkelupas.
  • Hindari olahraga high impact, karena dapat menekan kulit di daerah telapak kaki. Konsultasikan dengan dokter jenis olahraga apa saja yang dapat dilakukan.
  • Segera obati jika terdpat mata ikan, kutil, atau kapalan pada daerah kaki. Jika tidak diatasi segera dapat membuat luka.
  • Pertimbangkan penggunaan ortotik. Alat ortotik dapat membantu penderita jika mengalami kesulitan berjalan jika sudah mengalami gangguan saraf dan kelemahan otot.
  • Senantiasa control kadar gula darah untuk menghindari peningkatan kadar gula berlebihan hingga menimbulkkan komplikasi serius pada organ, terutama pada kaki.

Penulis: dr. Rina Metapala, Ratna Indriasari, Titis Nurwulan S.
Dimuat dalam: Majalah Dokter Kita (edisi 8 – thnVI – Agustus 2011)