Betty Dwi Lestari : Pilih Dokter Karena Peduli

Liku hidup memang penuh dengan misteri. Bahkan sering tak bisa diprediksi dengan pasti apa yang akan terjadi dalam perjalanan hidup seseorang. Pun demikian dengan kisah hidup dr. Betty Dwi Lestari, SpPD.

Betty – demikian dia biasa disapa – lahir di Desa Gulurejo, Kecamatan Lendah, Kabupaten Kulon Progo, sebelah barat Kota Yogyakarta. Sebagaimana anak-anak di kampungnya kala itu, Betty kecil pun cukup aktif bermain ala kampung dengan pemainan-permainan tradisional yang sederhana.

“Saya dari kampung di Kulon Progo, tinggal bersama orang tua di rumah kakek dan nenek. Kami hidup tanpa listrik, penerangan seadanya. Bermain, berlari, lompat-lompatan, ya permainan kampunglah. Beda dengan anak-anak zaman sekarang yang akrab dengan gadget bermain game,” kisah Betty.

Menginjak usia yang belum genap masuk Taman Kanak (TK), Betty dan keluarga pindah ke Yogyakarta, ke tempat tugas baru ayahnya yang bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS). Di kota Gudeg inilah, Betty tumbuh dan dewasa bersama kedua orangtuanya.

Ingin ke Arsitek

Masuk ke Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM), seakan mimpi bagi Betty. Pasalnya sejak kecil, Betty selalu terbayang akan gelar Insinyur yang bakal bersanding dengan namanya. Namun sejak di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) niatnya itu mulai redup. Bukan tanpa alasan, atas motivasi dan dorongan orangtuanya, anak kedua dari empat bersaudara ini pun memilih untuk menjadi dokter.

“Dulunya pengen ke teknik arsitek, tapi saat sering sakit-sakitan seperti asma, orang tua dorong saya supaya menjadi dokter saja. Kata mereka, jadi dokter bisa merawat diri, merawat orang tua, dan orang lain,” ucap Betty mengenang.

Sempat bingung namun akhirnya Betty memantapkan pilihan terakhirnya itu dan mendaftar ke UGM selepas lulus dari SMAN 1 Yogyakarta, tahun 1996 lalu. Di kampus ini, Betty benar-benar memanfaatkan waktunya untuk tekun belajar. Pola didikan orang tua yang menanamkan kedisiplinan pun menjadi alasan atas sejumlah prestasi yang pernah dia raih semasa kuliah. Diantaranya, tahun 1998 sebagai Juara I LKIP Tingkat Nasional Bidang Kesehatan serta menjadi Mahasiswa Berprestasi I Fakultas Kedokteran UGM pada tahun 1999.

Lulus dan meraih gelar sarjana kedokteran pada 2003, Betty pun mulai menjalankan karirnya, bekerja di Klinik Kimia Farma Yogyakarta. Mengemban tugas sebagai seorang dokter muda menyimpan cerita dan kenangan tersendiri. Penuh gejolak dan tantangan. Betty harus berjibaku melawan dirinya sendiri, menghadapi pasien dengan beragam ‘tuntutan’. Meski begitu semangatanya tak pernah meredup, sebab dia begitu peduli pada setiap pasien yang membutuhkan sentuhannya tangan dingin dokter muda ini. Bahkan rasa pedulinya itu semakin menggebu untuk mendalami ilmu kedokterannya, sebagaimana banyaknya keluhan penyakit oleh para pasien yang dia jumpai.

Tahun 2005, Dokter Betty melanjutkan pendidikannya dan mendalami spesialisasi penyakit dalam di UGM. Dia pun berhasil meraih gelar magister serta menyadang predikat Spesialis Penyakit Dalam atau SpPD pada 2010. Tahun pertamanya sebagai dokter sepesialis, dia bekerja di RS Jogja International Hospital (JIH), Yogyakarta. Selang setahun berikutnya, Dokter Betty hijrah ke Kota Depok dan bekerja di RS Graha Permata Ibu Depok. Tahun 2013, Dokter Betty kembali terpanggil untuk ikut melayani dan mengobati pasien di RS Hermina Depok. Kini, ibu tiga anak ini masih aktif bekerja di kedua rumah sakit tersebut.

Meski sibuk dengan rutinitasnya itu, namun Dokter Betty mengaku masih sanggup mengurusi pekerjaan rumah sebagaimana ibu rumah tangga pada umumnya. “Sebelum ini memang saya bekerja di tiga rumah sakit, tapi sekarang hanya dua. Alhamdulillah saat ini bisa tercover karena lebih punya waktu luang untuk keluarga,” tandas istri dari Rahmat Ali Hakim ini.

Dokter Betty berharap, kelak salah satu puteranya dapat mengikuti jejak kedokerannya kini. “Saya lihat potensi ini sudah ada di anak kedua saya,” ucap Dokter Betty yang juga berencana melanjutkan pendidikan kedokterannya ke spesialis penyakit dalam gastro ini.

“Menjadi dokter itu ternyata enak lho. Bisa membantu orang, mengubah seseorang dari ‘membenci’ penyakit yang dia derita menjadi ‘berdamai/bersahabat’ dengan penyakitnya,” lanjut Dokter Betty.

Edukasi

Dalam perjalanan karirnya sebagai seorang dokter, sampailah pada kesimpulan bahwa tidaklah cukup seorang pasien hanya mendapatkan pengobatan tanpa edukasi. Menurut Dokter Betty, banyak masyarakat yang masih terjebak akan tawaran menarik dari berbagai produk herbal maupun suplemen yang bebas beredar.

“Dengan mudah kita jumpai terutama di internet. Banyak sekali promosi dan kampanye menyesatkan. Banyak produk herbal maupun suplemen yang beredar, yang dibuat seolah-olah bisa langsung menyembuhkan suatu penyakit. Bahkan ada satu produk yang bisa mengobati hingga ratusan penyakit. Bagaimana mungkin itu bisa terjadi,” ujarnya.

Untuk ini, berbagai cara dilakukan Dokter Betty guna memberikan pemahaman dan pengertian yang lebih jelas tentang risiko dan bahaya menggunakan obat-obatan yang bebas beredar. Salah satunya adalah melalui website http://dokterbetty.com. Dalam website ini juga Dokter Betty memberikan kesempatan kepada masyarakat umum untuk bertanya mengenai berbagai penyakit yang dialami.

“Saya suka menulis terkait bebagai penyakit dalam yang sering dijumpai di masyarakat. Saya ingin sekali agar tulisan-tulisan saya bisa dibaca orang lain. Sehingga semakin banyak orang bisa mengetahui dengan lebih jelas tentang penyakit dalam,” katanya.

Menurut Dokter Betty untuk mengobati seorang pasien, seorang dokter pun harus melakukan beberapa tahapan. Mulai dari anamnesis atau wawancara, kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan fisik. Dan jika masih ragu, maka dilanjutkan ke pemeriksaan penunjang, seperti ke laboratorium atau rontgen. Setelah itu baru bisa diketahui diagnosis pasti dengan obat-obatan yang direkomendasikan oleh dokter.

“Memang 80% diagnosis adalah dari anamnesis. Dari situ kita sudah bisa mengarah kepada sebuah penyakit. Jadi tidak sesederhana itu memberikan obat pada pasien, apalagi penyakit dalam,” tegas dokter Betty.

Meski demikian, bagi Dokter Betty, obatan herbal tetap bisa digunakan namun hanya sebatas sebagai pelengkap. [pk]

2005 – 2010 S2 dan spesialis penyakit dalam Kedokteran Universitas Gadjah Mada
1996 – 2003 S1 Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada
Lulus  1996 SMAN 1 Yogyakarta
2013 – sekarang RS Hermina Depok
2011 – sekarang RS Graha Permata Ibu Depok
2010  RS JIH Jogjakarta
2003 – 2005 Klinik Kimia Farma Jogjakarta
2013 Pelatihan Endoskopi RSCM
1999 Mahasiswa Berprestasi III Universitas Gadjah Mada
1999 Mahasiswa Berprestasi I Fakultas Kedokteran UGM
1998 Juara I LKIP tingkat Nasional Bidang Kesehatan
1994 – 1995 AFS Japan Year Program Student Exchange